ArtikelKabar

OBSERVASI SYAFAQ DI PANTAI TANGSI SITUBONDO UNGKAP PERUBAHAN CAHAYA SENJA DAN KAITANNYA DENGAN WAKTU SHALAT

Situbondo, 30 Agustus 2026 — Fenomena cahaya senja atau syafaq menjadi objek pengamatan langsung di Pantai Tangsi, Desa Tanjung Pecinan, Kecamatan Mangaran, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, Ahad, 30 Agustus 2026. Observasi ini dilakukan untuk memperoleh gambaran empiris mengenai perubahan cahaya di ufuk barat setelah matahari terbenam sekaligus mengkaji kaitannya dengan penentuan waktu salat Magrib dan Isya.

Kegiatan observasi tersebut dilaksanakan oleh Dr. Harno Purwanto, S.P., M.PI., dari Yayasan Bina Al-Mujtama’/Ma’had ‘Aliy Al-Aimmah (MAA) Malang. Laporan observasi kemudian dibaca dan disahkan oleh pimpinan Ma’had ‘Aliy Al-Aimmah Malang pada 19 September 2026.

Pantai Tangsi dipilih sebagai lokasi pengamatan karena memiliki ufuk barat yang relatif terbuka. Berdasarkan data lokasi, titik observasi berada pada koordinat 7,6053° LS dan 114,0401° BT dengan ketinggian sekitar 1 meter di atas permukaan laut. Arah pengamatan difokuskan ke barat, dengan laut lepas dan tanpa penghalang berarti di sekitar ufuk. Kondisi tersebut memungkinkan perubahan cahaya setelah matahari terbenam diamati secara lebih leluasa.

Observasi dimulai sejak sore hari dan dokumentasi dilakukan secara berkelanjutan menggunakan kamera DSLR Nikon D5500. Pengamatan diarahkan untuk merekam kondisi langit sebelum matahari terbenam, saat matahari terbenam, munculnya cahaya kemerah-merahan, berkurangnya intensitas cahaya merah, keberadaan cahaya putih, hingga kondisi langit ketika cahaya senja tidak lagi teramati.

Pada hari pengamatan, kondisi langit secara umum cerah dengan tutupan awan sekitar 25 persen. Ufuk barat dilaporkan terbuka, atmosfer relatif jernih tanpa kabut atau debu, kelembapan sekitar 70 persen, suhu udara sekitar 27°C, dan kecepatan angin sekitar 20 knots. Air laut dalam kondisi surut sehingga area pantai yang mengarah ke laut cukup luas.

Cahaya Merah Terlihat Jelas

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa langit tidak langsung menjadi gelap setelah matahari terbenam. Cahaya senja mengalami perubahan secara bertahap. Sekitar pukul 17.23 WIB, matahari telah terbenam dan cahaya langit mulai berkurang. Pada pukul 17.41 WIB, cahaya kemerah-merahan terlihat jelas dan relatif merata di langit bagian barat.

Cahaya kemerah-merahan tersebut menjadi bagian penting dalam kajian syafaq aḥmar, yaitu cahaya merah yang tampak di ufuk setelah matahari terbenam. Dalam laporan, fenomena ini dikaitkan dengan penjelasan para ulama salaf mengenai makna syafaq. Imam al-Ṭabari, misalnya, menukil pendapat yang memaknai syafaq sebagai warna merah di ufuk.

Seiring berjalannya waktu, intensitas warna merah semakin berkurang. Pada pukul 17.59 WIB, warna merah mulai redup dan bercampur dengan warna gelap. Pukul 18.05 WIB menjadi waktu terakhir ketika warna merah masih dapat diamati secara jelas. Pada sekitar pukul 18.06 WIB, warna merah dinilai telah menghilang, sementara cahaya putih masih tampak di ufuk barat.

Pengamatan kemudian berlanjut hingga sekitar pukul 18.23 WIB. Pada waktu tersebut, cahaya syafaq tidak lagi dapat diamati dan langit telah tampak gelap. Dengan demikian, observasi mencatat adanya perbedaan waktu antara hilangnya cahaya merah dan hilangnya cahaya senja secara keseluruhan.

Tiga Momentum Penting

Data observasi menunjukkan tiga momentum yang menjadi perhatian dalam pembahasan. Pertama, syafaq aḥmar atau cahaya merah menghilang sekitar pukul 18.06 WIB, atau sekitar 43 menit setelah matahari terbenam pada pukul 17.23 WIB.

Kedua, cahaya putih atau yang dalam pembahasan fikih disebut syafaq abyaḍ masih teramati hingga sekitar pukul 18.23 WIB, atau 60 menit setelah matahari terbenam. Ketiga, pendekatan ketinggian matahari −18° dalam sistem hisab yang dibandingkan dalam penelitian menghasilkan waktu sekitar pukul 18.36 WIB, atau 73 menit setelah matahari terbenam.

Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa fenomena cahaya yang terlihat secara visual tidak selalu bertepatan dengan parameter astronomis tertentu. Dalam observasi ini, syafaq merah secara visual telah menghilang sekitar 30 menit sebelum waktu ketika matahari diperkirakan mencapai −18°. Sementara cahaya putih atau cahaya senja secara keseluruhan menghilang sekitar 13 menit sebelum waktu tersebut.

Laporan menekankan bahwa perbedaan tersebut tidak serta-merta menunjukkan kesalahan salah satu data. Fenomena syafaq dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain posisi geografis, musim, kelembapan atmosfer, tutupan awan, kejernihan udara, serta kondisi lingkungan dan polusi cahaya. Karena itu, hasil observasi pada satu lokasi dan satu waktu tidak dapat secara langsung digeneralisasikan untuk seluruh wilayah.

Berkaitan Langsung dengan Waktu Salat

Observasi syafaq memiliki relevansi langsung dengan fikih waktu salat. Dalam laporan dikutip hadis Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم yang menjelaskan bahwa waktu Magrib berlangsung selama syafaq belum hilang. Dengan demikian, hilangnya syafaq memiliki kedudukan penting dalam pembahasan batas waktu Magrib dan masuknya waktu Isya.

Dalam literatur fikih terdapat perbedaan pendapat mengenai jenis syafaq yang menjadi batas tersebut. Laporan menjelaskan bahwa jumhur ulama mengidentifikasi syafaq sebagai cahaya merah (syafaq aḥmar), sedangkan pendapat yang masyhur dalam mazhab Hanafi mengaitkannya dengan cahaya putih (syafaq abyaḍ). Perbedaan pemaknaan tersebut berimplikasi pada perbedaan waktu masuk Isya.

Berdasarkan hasil observasi Pantai Tangsi, apabila digunakan pendapat yang menjadikan hilangnya syafaq aḥmar sebagai indikator masuknya Isya, maka waktunya berada sekitar pukul 18.06 WIB. Sementara apabila digunakan pendapat yang menjadikan hilangnya syafaq abyaḍ sebagai indikator, waktunya sekitar pukul 18.23 WIB. Adapun pendekatan kriteria −18° yang dibandingkan dalam laporan menghasilkan sekitar pukul 18.36 WIB.

Perbandingan dengan jadwal waktu salat Kementerian Agama juga menunjukkan adanya selisih pada waktu Magrib. Matahari secara visual terbenam sekitar pukul 17.23 WIB, sedangkan jadwal yang dibandingkan menetapkan awal Magrib pada pukul 17.26 WIB, atau terdapat selisih sekitar tiga menit. Untuk waktu Isya, terdapat perbedaan sekitar 30 menit jika dibandingkan dengan hilangnya syafaq aḥmar dan sekitar 13 menit jika dibandingkan dengan hilangnya syafaq abyaḍ. Oleh karena itu, sebagai kehati-hatian (iḥtiyāṭ), jangan menunda pelaksanaan shalat maghrib melebihi 30 menit setelah matahari terbenam agar terhindar dari khilaf keabsahan waktu shalat maghrib.

Mendorong Observasi Berkelanjutan

Laporan observasi menyimpulkan bahwa syafaq merupakan fenomena yang berlangsung secara bertahap, mulai dari kondisi langit yang terang setelah matahari terbenam, munculnya cahaya kemerah-merahan, berkurangnya intensitas warna merah, munculnya atau bertahannya cahaya putih, hingga langit menjadi gelap.

Kegiatan tersebut juga menunjukkan bahwa observasi lapangan dapat menjadi sarana untuk mempertemukan kajian Al-Qur’an, hadis, fikih, ilmu falak, dan astronomi dengan fenomena alam yang dapat diamati secara langsung.

Untuk pengembangan penelitian selanjutnya, laporan merekomendasikan observasi dilakukan pada beberapa tanggal dan lokasi berbeda. Penggunaan instrumen yang lebih memadai, pencatatan kondisi atmosfer secara lebih lengkap, serta perbandingan dengan berbagai metode perhitungan astronomis juga dinilai penting untuk memperoleh data yang lebih komprehensif.

Observasi syafaq juga dinilai berpotensi dikembangkan sebagai kegiatan edukatif ilmu falak yang melibatkan mahasiswa, santri, pengajar, maupun masyarakat. Dengan pengamatan langsung, fenomena astronomis yang berkaitan dengan waktu-waktu salat dapat dipelajari secara lebih konkret sekaligus memperkuat pemahaman mengenai hubungan antara ilmu falak dan pelaksanaan ibadah.

Gambar 1. Sebelum sunset, jam 17.16

Gambar 2. Matahari saat terbenam, jam 17.22

Gambar 3. Matahari telah terbenam, jam 17.23

Gambar 4. Syafaq aḥmar, jam 17.41

Gambar 5. Intensitas berkurang, jam 17.51

Gambar 6. Masa transisi, jam 17.53

Gambar 7. Syafaq merah sudah hilang, jam 18.06

Gambar 7. Cahaya putih masih teramati oleh mata di langit ufuk, akan tetapi keberadaan cahaya dari kapal yang berada lurus di ufuk menghalangi kamera untuk menangkap cahaya putih di langit, jam 18.20

Gambar 8. Titik akhir observasi, langit sudah gelap total, jam 18.23

 

Tampilkan Lebih Banyak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button