
Empat Hari di Antara Atap dan Doa: Perjuangan Sebuah Keluarga Bertahan dari Banjir Besar Aceh
Aceh Tamiang — Banjir besar yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat bukan sekadar bencana alam. Ia meninggalkan jejak luka, kehilangan, sekaligus kisah perjuangan hidup yang sulit dilupakan. Salah satunya datang dari keluarga Aidhil Fatihah, mahasantri Ma’had Aly Al Aimmah Malang, yang keluarganya turut menjadi korban banjir di Aceh Tamiang.
Kisah ini bermula saat rombongan YBM PEDULI masih baru berangkat dari Malang menuju Surabaya dalam rangkaian perjalanan menuju Aceh untuk misi kemanusiaan. Di tengah perjalanan, sebuah kabar datang dari salah satu mahasantri: bibinya bersama keluarga sempat terjebak dalam bencana banjir besar. Bibinya itu telah mengikuti program transmigrasi sejak dua puluh tahun lalu dan menetap di Jalan Tenggulun, Desa Simpang Kiri, Kecamatan Tenggulun, Kabupaten Aceh Tamiang—jauh dari kampung halaman di Purwokerto, Jawa Tengah, dan belum pernah pulang sejak saat itu.
Upaya menghubungi keluarga korban tidaklah mudah. Jaringan komunikasi terputus-putus. Namun qaddarullāh wa mā syā’a fa‘al, pada Senin, 22 Desember 2025, komunikasi akhirnya tersambung. Rombongan pun segera bergerak menuju lokasi.
Perjalanan menuju Kecamatan Tenggulun memakan waktu sekitar satu jam dari posko MBA di Kuala Simpang Aceh Tamiang. Jalanan terlihat mulus, seakan tak menyimpan luka. Namun tanda-tanda dahsyatnya banjir terpampang jelas di sepanjang perjalanan. Bekas air terlihat pada dedaunan pohon sawit—tingginya mencapai 10 hingga 12 meter. Pemandangan itu menimbulkan satu pertanyaan yang mengguncang batin: bagaimana warga bisa menyelamatkan diri saat air setinggi itu datang?
Setibanya di depan rumah yang dituju, sebuah keluarga telah menunggu. Bapak Toni, istrinya Ibu Tri Ari Purwati, dan tiga putra mereka menyambut dengan wajah lelah namun penuh syukur. Saat rombongan memperkenalkan diri, air mata Ibu Tri pun jatuh tak tertahan. Dua puluh tahun jauh dari Jawa, lalu ditimpa musibah besar—namun Allah masih mengirimkan saudara seiman dari tanah kelahiran untuk menjenguk mereka.
Rumah yang mereka tempati sangat sederhana: bangunan semi permanen dengan dinding bata setinggi satu meter dan bagian atas dari triplek. Halaman depan masih dipenuhi lumpur. Di dalam rumah, satu kamar belum sempat dibersihkan. Yang mengejutkan, saat banjir datang dan air mencapai atap, bagian atas rumah sempat terangkat oleh derasnya arus—namun tidak hanyut. Pada sambungan dinding dan kayu, masih terselip kasur, potongan kayu, dan barang-barang lain yang menjadi saksi keganasan air.
Seluruh anggota keluarga selamat. Namun keselamatan itu diraih dengan perjuangan panjang. Di malam ketika air mulai memasuki rumah, Pak Toni segera meminta istrinya mengamankan dokumen penting—ijazah dan berkas berharga lainnya. Saat air terus meninggi, perintah pun berubah: selamatkan diri. Mereka membawa apa yang bisa dibawa—beras, air minum, dan sebuah kompor kecil—bekal untuk bertahan hidup.
Mereka menuju rumah keluarga yang memiliki loteng kecil di lantai dua. Di tengah kepanikan, Pak Toni sempat mengambil tabung LPG dari warung tetangga, seraya berkata lirih, “Saya bawa dulu ya, nanti bayarnya belakangan.” Awalnya, loteng itu hanya diisi dua keluarga. Namun kepanikan warga lain memaksa mereka bergabung. Dalam ruang sempit itu, berdesakan 35 jiwa dari tujuh kepala keluarga.
Ketika loteng dikhawatirkan tak lagi mampu menahan beban, para bapak memutuskan naik ke atap seng rumah. Di sanalah mereka bertahan—di antara dingin malam, terik siang, dan doa-doa yang tak pernah putus—selama empat hari empat malam. Karena banjir baru surut setelah lewat 4 hari tersebut.
Berkat keputusan sederhana namun penuh hikmah—membawa beras saat mengungsi—35 jiwa itu tidak kelaparan, meski hanya bisa makan nasi putih. Hingga akhirnya, setelah empat hari yang terasa seperti empat tahun, air mulai surut dan mereka bisa turun dari tempat perlindungan.
Rumah mereka berantakan. Barang-barang terendam dan sebagian hanyut. Di antara yang hilang adalah mushaf Al-Qur’an, buku Iqra, dan buku-buku pelajaran anak-anak. Sebagai bentuk kepedulian, tim YBM PEDULI menyerahkan mushaf Al-Qur’an, buku dzikir dan doa, dua paket sembako, serta kalender YBM—hadiah kecil yang sarat makna di tengah kehilangan besar.
Banjir ini mungkin telah merenggut harta, namun tidak iman dan harapan. Semoga Allah memberikan pahala bagi mereka yang tertimpa musibah dan menggantinya dengan yang lebih baik. Semoga Allah pula menerima setiap kebaikan dari para relawan, para donatur, dan seluruh kaum Muslimin yang membantu dengan harta, tenaga, dan doa.
Karena di tengah air yang menenggelamkan segalanya, masih ada kemanusiaan yang tetap bertahan.
Ditulis oleh Dr. Abu Sholih Harno P, M.PI.
Di pesawat Medan–Surabaya, Selasa, 23 Desember 2025.





