Kabar

Kisah dari Sebuah Bencana: Perjalanan Terakhir di Tengah Banjir Aceh Tamiang

Aceh Tamiang — Senin pagi, 22 Desember 2025, suasana di Posko Markas Bersama Assunnah (MBA) dipenuhi cerita pilu dari warga yang terdampak banjir besar. Di antara mereka, Mas Tomi dan Mas Zaydan duduk berbincang bersama dengan Dr. Abu Sholih Harno, relawan dari YBM PEDULI Malang. Mas Tomi mengisahkan potongan peristiwa yang sulit dilupakan sejak air bah melanda daerah mereka.

Mas Tomi tinggal di wilayah perbukitan yang bersebelahan dengan posko MBA. Rumahnya selamat dari terjangan banjir. Namun bencana tak selalu datang dengan merendam rumah—kadang ia datang melalui kehilangan.

Saat air mulai naik, qaddarullāh wa mā syā’a fa‘al, seorang tetangga Mas Tomi jatuh sakit dalam kondisi kritis. Meski jalanan mulai terendam dan keadaan semakin genting, keluarga tetap berusaha menyelamatkan nyawanya. Dengan mobil seadanya, mereka menerobos banjir menuju RSUD terdekat.

Namun takdir Allah berkata lain. Setibanya di rumah sakit, kondisi sudah tidak kondusif. Tenaga dan fasilitas terbatas, sementara banjir semakin melumpuhkan segalanya. Pasien tidak tertangani secara maksimal. Beberapa saat kemudian, ia menghembuskan napas terakhirnya.

Dengan duka mendalam, keluarga yang mengantar berniat kembali pulang untuk menyampaikan kabar wafat ini kepada sanak keluarga. Tetapi saat keluar dari RSUD, air sudah semakin tinggi. Mobil tak lagi bisa digunakan dan terpaksa ditinggalkan.

Dalam kondisi gelap, lelah, dan berduka, mereka berjuang menyeberangi genangan air yang telah setinggi leher orang dewasa. Dengan sisa tenaga, mereka menuju perbukitan terdekat. Dari sana, mereka berjalan memutar menyusuri bukit hingga akhirnya tiba di rumah duka, membawa kabar yang mengiris hati.

Sementara itu, kondisi RSUD semakin memprihatinkan. Pasien yang masih bertahan hidup dan jenazah yang ada terpaksa dipindahkan ke lantai dua demi keselamatan. Namun akses menuju rumah sakit benar-benar terputus. Selama tiga hari tiga malam, keluarga tak mampu menjangkau jenazah orang tercinta.

Barulah setelah tiga hari, air mulai surut dan akses terbuka. Jenazah akhirnya bisa diambil dan dimakamkan—setelah penantian panjang yang penuh kesabaran dan air mata.

Banjir ini bukan sekadar merendam rumah dan jalanan. Ia meninggalkan luka, kehilangan, dan kisah-kisah kemanusiaan yang akan terus hidup dalam ingatan para penyintas. Di tengah musibah, ketabahan dan ikhtiar manusia bertemu dengan takdir Allah—mengajarkan arti sabar dalam keadaan paling sulit.

Tampilkan Lebih Banyak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button