Kabar

Kisahku Menjadi Relawan Erupsi Gunung Semeru

Pada hari Sabtu, 29 November 2025, aku dan para mahasantri Ma’had Aly Al-Aimmah Malang mendapat amanah yang tidak pernah kami duga sebelumnya: menjadi relawan selama tiga hari untuk membantu para korban erupsi Gunung Semeru. Awalnya, aku mengira tugas ini hanya sekadar kegiatan sosial seperti biasa. Namun ternyata, perjalanan itu menjadi pengalaman mendalam yang menggugah hati, mengajarkan arti kepedulian, dan menunjukkan betapa indahnya menolong sesama.

Selama tiga hari penuh, kami menyusuri daerah-daerah yang terdampak. Lumpur menutupi rumah warga, jalan-jalan dipenuhi bebatuan, dan sebagian wilayah tampak porak-poranda. Di tengah semua itu, aku melihat sesuatu yang begitu berharga—persatuan. Para pemuka agama, polisi, tentara, relawan dari berbagai daerah, hingga warga sekitar, semuanya bekerja bahu-membahu tanpa memandang latar belakang. Mereka menyatu dalam satu tujuan: membangun kembali harapan.

Di balik keringat dan lelah, ada kebahagiaan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Ketika melihat senyum syukur dari warga yang kami bantu, aku menyadari bahwa kebahagiaan kadang hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: membantu, memberi, dan hadir untuk orang lain. Meskipun mereka sedang ditimpa musibah, warga tetap menyambut kami dengan hangat. Mereka menawarkan mie, roti, kue, dan berbagai makanan yang mereka miliki. Dari mereka, aku belajar bahwa kedermawanan sejati tidak menunggu waktu lapang; ia tumbuh dari hati yang ikhlas.

Kami juga merasakan kesegaran suasana pedesaan. Naik truk sambil melambaikan tangan kepada warga, bercanda dengan teman-teman di sepanjang perjalanan, membuat misi ini terasa hangat dan penuh warna. Tugas kami sebenarnya sederhana—membersihkan rumah, menyingkirkan lumpur dari jalan, menata kembali area yang rusak, dan sebagian dari kami membantu memasak untuk para relawan. Namun di balik kesederhanaan itu, kami menemukan makna yang besar.

Perasaan kami bercampur menjadi satu. Ada rasa senang karena dapat membantu. Ada sedih saat melihat banyak saudara kita yang kehilangan rumah dan harta benda. Namun ada pula bahagia ketika melihat wajah mereka kembali tersenyum setelah lingkungan mereka mulai bersih dan tertata. Rasa terima kasih dari para warga seolah menjadi hadiah terbesar bagi kami. Melihat mereka kembali menatap masa depan dengan harapan baru merupakan balasan yang membuat semua lelah terasa hilang.

Pesan

Dari perjalanan ini, aku belajar bahwa kepedulian tidak mengenal batas waktu, tempat, maupun status. Bencana bukan hanya ujian bagi para korban, tetapi juga ujian bagi siapa saja yang menyaksikannya. Ketika kita memilih untuk membantu, sekecil apa pun kontribusinya, kita sebenarnya sedang menyalakan lilin harapan bagi orang lain.

Aku juga menyadari bahwa kebersamaan adalah kekuatan yang luar biasa. Ketika pemuka agama, aparat negara, relawan, dan warga sekitar bekerja dalam satu tujuan yang sama, musibah sebesar apa pun dapat dilalui. Tindakan-tindakan kecil yang dilakukan bersama dapat membawa perubahan besar.

Pada akhirnya, membantu sesama bukan hanya tugas sosial. Ia adalah bentuk ibadah, ungkapan rasa syukur, dan cara kita menghargai nikmat yang Allah titipkan.

Kesan

Menjadi relawan di lokasi bencana adalah pengalaman berharga yang akan selalu aku kenang. Aku merasakan ketulusan para relawan, kehangatan warga, serta kuatnya rasa persaudaraan di tengah keadaan yang serba sulit. Ada kelelahan, tentu saja, tetapi ada pula kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata ketika melihat para korban tersenyum kembali.

Aku sangat terkesan dengan ketabahan warga. Meski tertimpa musibah, mereka tetap ramah, hangat, dan tidak henti-hentinya bersyukur. Suasana pedesaan yang indah, kebersamaan dengan teman-teman, serta berbagai cerita perjuangan di lapangan menjadi kenangan yang menetap dalam hatiku.

Pengalaman ini mengajarkanku bahwa kebahagiaan tidak harus menunggu keadaan sempurna. Kebahagiaan bisa hadir dari hal-hal sederhana: membantu orang lain, melihat senyum mereka, dan merasakan bahwa kehadiran kita membawa dampak nyata.

Dan dari Semeru, aku belajar bahwa setiap kebaikan yang kita lakukan—betapa pun kecilnya—selalu meninggalkan jejak, bukan hanya di tempat bencana, tetapi juga di hati kita sendiri.

Ditulis oleh Abdurrahman, mahasantri Program I’dad Du’at kelas 3 asal Jeneponto

Tampilkan Lebih Banyak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button