Kabar

TIGA HARI YANG TERASA KURANG DI SEMERU

Jejak Pengabdian Relawan YBM & Ma’had Aly Al-Aimmah Malang

Ketika kabar tentang erupsi terbaru Gunung Semeru kembali mengguncang Lumajang, suara kepedulian pun datang dari berbagai penjuru. Tak terkecuali dari Yayasan Bina Al-Mujtama’ (YBM) dan para mahasantri Ma’had Aly Al-Aimmah Malang. Pada 29 November 2025, puluhan relawan berangkat menuju wilayah yang porak-poranda diterjang material vulkanik, membawa satu tekad: hadir untuk sesama yang sedang diuji.

Perjalanan yang Tidak Mudah

Pagi itu, rombongan bergerak menuju Lumajang menggunakan motor, ambulans, dan sebuah truk besar. Jalanan yang berkelok dan bau mesin truk yang menyengat membuat perjalanan terasa panjang. Banyak mahasantri tumbang oleh mabuk kendaraan, memaksa truk berhenti beberapa kali.

Sebagian relawan bahkan harus dipindahkan ke kendaraan lain karena sudah tak mampu melanjutkan perjalanan. Meski penuh drama, tidak ada yang mengeluh. Semuanya menyadari bahwa ujian perjalanan hanyalah pengantar dari misi besar yang sedang mereka bawa.

Langkah Pertama di Tanah Bencana

Setibanya di posko, tanpa banyak waktu untuk beristirahat, seluruh relawan langsung menuju permukiman terdampak. Di sana mereka mendapati pemandangan yang menyayat hati: lumpur menutup jalan, halaman rumah tertimbun material vulkanik, dan sumur warga terisi penuh oleh abu serta pasir.

Namun ada hal yang tak kalah kuat dari dahsyatnya bencana: kesatuan manusia. Relawan dari berbagai unsur—TNI, Polri, ormas Islam, hingga warga setempat—tampak bekerja berdampingan. Ada energi kebersamaan yang menular dan membakar semangat.

Usai melaksanakan salat Dzuhur dan Ashar secara jamak, tim pun dibagi. Ada yang membersihkan selokan dan jalan, dan ada pula yang bertugas menggali sumur warga yang tertutup material vulkanik.

Hari pertama berakhir dengan hasil nyata. Jalan dan selokan yang sebelumnya tertutup lumpur berhasil dibuka, meski sumur warga belum menemukan kembali mata airnya.

Hari Kedua: Kerja Total dari Pagi hingga Siang

Hari kedua diawali dengan Subuh berjamaah dan sarapan sederhana. Suasana pagi itu begitu hangat, dengan kabut tipis yang menggantung di lereng gunung. Setelah apel pagi, para relawan kembali menyebar ke titik-titik kerja.

Tim penggali sumur bekerja tanpa lelah sejak matahari terbit. Usaha keras mereka membuahkan hasil ketika mata air akhirnya ditemukan pada salah satu sumur. Sementara itu, tim pembersihan menuntaskan jalan dan halaman rumah yang sejak hari sebelumnya penuh lumpur.

Menjelang siang, warga setempat mengundang para relawan makan di rumah mereka. Ajakan itu diterima sebagai wujud menghormati ketulusan warga yang tetap ingin berbagi di tengah keterbatasan. Kebersamaan sederhana itu menjadi momen yang melekat di hati.

Hari Ketiga: Menutup Pengabdian

Hari terakhir menjadi puncak kelelahan sekaligus pengabdian. Para relawan kembali turun membersihkan halaman rumah warga dan mencoba menyelesaikan sumur kedua. Namun waktu tiga hari ternyata tidak cukup. Meski telah mencapai beberapa meter kedalaman, air belum juga ditemukan. Tim penggali sumur menutup hari itu dengan perasaan campur aduk—antara syukur, lelah, dan sedikit kecewa.

Meski begitu, warga tetap menyampaikan terima kasih mendalam. Kehadiran para relawan saja sudah cukup menjadi penguat semangat mereka.

Setelah berpamitan dan memohon maaf atas pekerjaan yang belum tuntas, relawan kembali ke posko, bersiap pulang membawa sejuta pengalaman.

Kesan dari Tanah Semeru

Tiga hari pengabdian ini memberikan banyak pelajaran. Para relawan merasakan betapa berharganya membantu sesama, betapa besarnya rasa syukur ketika diselamatkan dari musibah, serta betapa kuatnya jiwa masyarakat Lumajang yang tetap ramah dan tegar di tengah cobaan.

“Kami sangat senang bisa membantu saudara Muslim yang tertimpa musibah,” ujar Fikam Jundullah, salah satu mahasantri peserta kegiatan.
“Namun ada rasa kecewa juga, karena tidak semua tugas bisa kami selesaikan.”

Walaupun demikian, setiap langkah, setiap keringat, dan setiap doa yang dipanjatkan menjadi bagian dari amal kebaikan yang tak akan hilang begitu saja.

Pesan dari Lapangan

Relawan berharap agar umat Islam terus menjaga semangat kepedulian dan siap membantu kapan pun bencana datang. Mereka mengingatkan bahwa doa, dukungan, dan uluran tangan—kecil ataupun besar—adalah bentuk ibadah dan wujud cinta sesama manusia.

Pengabdian ini mungkin hanya berlangsung tiga hari, tetapi kesan, pelajaran, dan ikatan hati yang terjalin akan tetap hidup jauh lebih lama.

Tulisan oleh Fikam Jundullah,

Mahasantri Program Studi I’dad Du’at, Kelas 3

Asal Nusa Tenggara Timur

Tampilkan Lebih Banyak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button